
Demam Berdarah Dengue
Disusun untuk memenuhi tugas
Pengendalian Vektor
Dosen Pengampu : Eram Tunggul Pawenang
Oleh:
Wulan Khoirul Rohmah (6411414048)
Peminatan Epidemiologi dan
Biostatiska Kesehatan
JURUSAN
ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS
ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
2016
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Epidemiologi
berasal dari bahasa yunani kuno, yaitu epi yang berarti diantara, dan demos
yang berarti masyarakat, dan logos yang berarti kajian. Jadi epidemiologi dapat
kita artikan sebagai kajian tentang apa yang terjadi di dalam kehidupan
masyarakat (Ferasyi,2012).
Epidemiologi
merupakan ilmu pengetahuan terapan yang mempelajari tentang timbulnya penyakit
atau masalah kesehatan yang menimpa masyarakat. Pengetahuan ini memberi
kerangka acuan untuk perencanaan dan evaluasi program intervensi masyarakat,
mendeteksi segera dan pengobatan penyakit, serta meminimalkan kecacatan.
Epidemiologi
mempunyai tiga fungsi utama, yaitu menerangkan tentang besarnya masalah dan
gangguan kesehatan (termasuk penyakit) serta penyebarannya dalam suatu penduduk
tertentu, menyiapkan data atau informasi yang esensial untuk keperluan
perencanaan, pelaksanaan program, serta evaluasi berbagai kegiatan pelayanan
(kesehatan) pada masyarakat, baik yang bersifat pencegahan dan penanggulangan
penyakit tersebut dan mengidentifikasi berbagai faktor yang menjadi penyebab
masalah atau faktor yang berhubungan dengan terjadinya masalah tersebut
(Noor,2012).
Untuk
melaksanakan fungsi tersebut, para ahli epidemiologi lebih memusatkan perhatian
pada berbagai sifat karakteristik individu dalam suatu populasi tertentu
seperti sifat karakteristik biologis, sosio-ekonomi, demografis, kebiasaan
individu serta sifat karakteristik genetik penerapannya (Noor,1996).
Penyakit
demam berdarah dengue atau disingkat DBD merupakan salah
satu masalah kesehatan dunia. Hal
ini dapat dilihat dari jumlah
kasus DBD di dunia pada tahun 2010
mencapai 2.204.516 kasus dan jumlah ini meningkat mendekati dua kali lipat dari
tahun 2009 yang sebesar 1.451.083 kasus. Jumlah tersebut juga meningkat sebesar
50 kali lipat dalam 5 dekade terakhir. Menurut data dari WHO mengenai jumlah kasus DBD selama
tahun 2004-2010 didapatkan negara Brazil merupakan negara
dengan jumlah kasus
DBD terbesar yaitu
447.446 kasus. Negara dengan
jumlah kasus terbesar
kedua dan ketiga
adalah Indonesia dan Vietnam sebesar 129.435 kasus dan 91.321
kasus. (WHO, 2012a).
World Health
Organization (2013) memperkirakan
2,5 milyar masyarakat dunia memiliki
risiko terkena virus
dengue dan lebih
dari 50-100 juta
infeksi dengue diseluruh dunia
setiap tahunnya. Infeksi
dengue yang berat
juga diperkirakan menyerang kurang
lebih 500.000 penduduk
dunia dan 2,5% diantaranya meninggal dunia (WHO, 2013).
Jumlah kasus DBD di kawasan Asia Tenggara
meningkat dari tahun
2011 sebesar 100.278
kasus menjadi 257.024 kasus di tahun 2012 (WHO,
2012b).
Penyakit
DBD juga masih merupakan masalah
kesehatan besar di Indonesia. Sejak
pertama kali ditemukan di Surabaya pada tahun 1968 hingga saat ini jumlah
kasus DBD terus
meningkat (Kemenkes RI,
2010). Hal ini
dapat dilihat dari jumlah
kasus DBD sebesar 90.245
kasus dengan angka
insidensi penyakit pada tahun
2012 yang mencapai
37,11 per 100.000
penduduk dengan jumlah
kasus meninggal sebesar 816
kasus (Case Fatality
Rate (CFR) =
0,90%). Terjadi peningkatan jumlah
kasus DBD pada
tahun 2012 dibandingkan
dengan tahun 2011 sebesar 65.725 kasus dengan angka
insidensi 27,67 per 100.000 penduduk dan jumlah kematian 595 kasus (CFR
= 0,91%) (Kemenkes RI, 2013).
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan uraian
latar belakang masalah di
atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut
:
1. Bagaimana
gambaran penyakit DBD secara epidemiologi ?
2. Bagaimana
gambaran penyakit DBD secara bionomic vector ?
1.3 Tujuan
Penulisan
Berdasarkan uraian
rumusan masalah di atas, maka
tujuan penulisan sebagai berikut
1. Untuk
mengetahui gambaran penyakit DBD secara epidemiologi
2. Untuk
mengetahui gambaran penyakit DBD secara bionomic vektor
1.4 Manfaat
Penulisan
Manfaat
penulisan bagi penulis yaitu menambah pengetahuan tentang gambaranpenyakit DBD
secara epidemiologi dan juga gambaran penyakit DBD secara bionomic vector.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Gambaran
Penyakit DBD secara Epidemiologi
2.1.1
Pengertian DBD
Demam berdarah
dengue (DBD) adalah
penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan
manifestasi klinis demam 2- 7 hari, nyeri
otot dan atau
nyeri sendi yang
disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan
diatesis hemoragik (Suhendro, 2009).
Tidak
semua yang terinfeksi virus dengue akan menunjukkan manifestasi DBD berat.
Ada yang hanya
bermanifestasi demam ringan
yang akan sembuh dengan sendirinya
atau bahkan ada yang sama sekali tanpa gejala sakit (asimtomatik). Sebagian
lagi akan menderita demam
dengue saja yang tidak
menimbulkan kebocoran plasma dan mengakibatkan kematian (Kemenkes RI, 2013).
2.1.2
Faktor risiko Demam Berdarah Dengue (
DBD )
Morbiditas dan
mortalitas penyakit DBD
menurut segitiga epidemiologi dipengaruh oleh 3 faktor, yaitu:
2.1.2.1 Agent
Agent merupakan
penyebab penyakit, dalam
penyakit demam berdarah dengue (
DBD ) adalah
virus. Sedangkan nyamuk
Aedes merupakan vektor
penyakit DBD.
Virus Aedes mampu
bermultiplikasi pada kelenjar
ludah dari
nyamuk Aedes
Aegepty. Pengontrolan terhadap
virus dengue dapat
dilakukan dengan melakukan kontrol
pada vektornya yaitu
nyamuk Aedes. Jumlah kepadatan vektor
Aedes dalam suatu
daerah dapat menjadi
patokan potensial penyebaran DBD.
2.1.2.2 Host
Host atau Pejamu adalah
manusia atau makhluk hidup lainnya yang menjadi tempat terjadinya proses
alamiah perkembangan penyakit. Yang termasuk dalam faktor penjamu yaitu
usia, jenis kelamin, ras, anatomi tubuh, status gizi, sosial ekonomi,
status perkawinan, penyakit
terdahulu, gaya hidup, hereditas, nutrisi dan
imunitas. Faktor-faktor ini
mempengaruhi risiko untuk terpapar
sumber infeksi serta
kerentanan dan resistensi manusia terhadap suatu
penyakit atau infeksi.
Pejamu memiliki karakteristik tersendiri dalam menghadapi
ancaman penyakit, antara lain:
1. Imunitas
Kesanggupan pejamu
untuk mengembangkan suatu
respon imunologis, dapat secara alamiah maupun non alamiah, sehingga
tubuh kebal terhadap
suatu penyakit tertentu.
Selain mempertahankan diri, pada
jenis-jenis penyakit tertentu mekanisme pertahanan
tubuh dapat menciptakan
kekebalan tersendiri.
2. Resistensi
Kemampuan
dari pejamu untuk bertahan terhadap suatu infeksi. Terhadap suatu
infeksi kuman tertentu,
manusia mempunyai mekanisme
pertahanan tersendiri dalam menghadapinya.
3. Infectiousness
Potensi pejamu
yang terinfeksi untuk
menularkan penyakit kepada orang
lain. Pada keadaan
sakit maupun sehat,
kuman yang berbeda dalam
tubuh manusia dapat berpindah
kepada manusia dan sekitarnya.
2.1.2.3 Lingkungan
Dengue di
Indonesia memiliki siklus
epidemik setiap sembilan
hingga sepuluh tahunan. Hal
ini terjadi karena
perubahan iklim yang
berpengaruh terhadap
kehidupan vektor, diluar
faktor-faktor lain yang
mempengaruhinya.
Menurut Mc
Michael, perubahan iklim
menyebabkan perubahan curah
hujan,
kelembaban suhu,
arah udara sehingga
berefek terhadap ekosistem
daratan dan lautan serta
berpengaruh terhadap kesehatan
terutama terhadap perkembangan vektor penyakit
seperti nyamuk.
Penyakit
DBD dapat menyebar pada semua tempat kecuali tempat-tempat dengan ketinggian
1000 meter dari permukaan laut karena
pada tempat yang tinggi dengan suhu yang rendah
perkembangbiakan Aedes aegypti tidak sempurna.
Meningkatnya
kasus serta bertambahnya wilayah yang terjangkit disebabkan
karena semakin baiknya
sarana transportasi penduduk, adanya pemukiman baru, dan terdapatnya vektor
nyamuk hampir di seluruh pelosok tanah air serta adanya empat tipe virus yang
menyebar sepanjang tahun.
Kecamatan
Magelang Utara termasuk daerah endemis tinggi DBD, secara topografi dan
geografi termasuk dataran
tinggi yang berada
pada ketinggian ± 380 m
di atas permukaan
laut, dengan kemiringan
berkisar antara 5o -
45o
Luas wilayahnya
± 6,128 km2
dengan kontur permukaan tanah bervariasi mulai dari
kondisi datar, bergelombang, dan daerah kemiringan. Kecamatan
Magelang Utara mempunyai
jumlah penduduk 35.795
jiwa, dengan kepadatan
penduduk ± 5.841
jiwa / km2 (Kecamatan Magelang
Utara, 2013). Jumlah
kasus DBD pada
tahun 2013 sebanyak 41
kasus, dengan Insidence
Rate (IR) DBD
= 114,54 per 100.000 penduduk
(Dinkes Kota Magelang, 2013).
Pola
berjangkitnya infeksi virus dengue
dipengaruhi oleh iklim dan kelembaban udara. Pada suhu yang panas (28-320C)
dengan kelembaban yang tinggi, nyamuk
Aedes aegypti akan tetap
bertahan hidup untuk
jangka waktu lama.
Di
Indonesia karena suhu udara dan kelembaban tidak sama di setiap tempat maka
pola terjadinya penyakit agak berbeda untuk setiap tempat. Di pulau Jawa pada
umumnya infeksi virus dengue terjadi mulai awal Januari, meningkat terus
sehingga kasus terbanyak terdapat pada sekitar bulan April-Mei setiap tahun.
Suhu udara
rata-rata di Kecamatan Magelang
Utara yaitu 20oC - 32oC,
dengan kelembaban nisbi antara
58,5% - 90,8%.
Rata-rata curah
hujan bulanan di
kawasan berkisar ±
234 mm dan
termasuk ke dalam
bulan basah sepanjang
tahun (BPS Kota
Magelang, 2013).
Tempat
penampungan air / keberadaan kontainer, sebagai
tempat perindukan nyamuk Aedes
aegypti.
Data
dari data jumlah kasus DBD, IR DBD, dan Angka Bebas Jentik (ABJ) selama
tiga tahun terakhir di Kecamatan
Magelang Utara, berdasarkan wilayah kelurahan sebagaimana tabel berikut :

Berdasarkan Tabel
1, pencapaian ABJ
pada tiap-tiap kelurahan
belum mencapai target nasional
yaitu ABJ ≥
95% (Depkes RI,
2000; Widiastuti, et
al., 2010), kecuali Kelurahan Kramat Utara. Kasus
DBD dan
IR DBD pada tahun 2013 tidak berbanding lurus dengan pencapaian ABJ per kelurahan, tetapi
secara garis
besar cenderung terjadi
peningkatan jumlah kasus
semenjak tahun 2011 hingga
tahun 2013.
Kebersihan
lingkungan / sanitasi lingkungan, dari penelitian Yukresna (2003) di kota Medan dengan desain
penelitian case control yang mendapatkan bahwa kebersihan lingkungan
mempunyai hubungan dengan kejadian DBD dengan OR 2,90 (CI 95% 1,63-5,15).
Penelitian tersebut sesuai dengan pernyataan Seogeng, S (2004) yang menyatakan
bahwa kondisi sanitasi lingkungan berperan besar dalam perkembangbiakan nyamuk
Aedes aegypti.
Data
kasus DBD berdasarkan jenis permukiman / tempat tinggal pasien di Kecamatan
Magelang Utara, selama tiga
tahun berturut-turut sebagaimana
tabel berikut :

Berdasarkan
Tabel 2, terdapat perbedaan jumlah kasus DBD menurut jenis permukiman dan
cenderung meningkat semenjak tahun 2011 mengikuti siklus tiga tahunan. Jumlah
kasus DBD terbanyak
terjadi di perkampungan
tradisional, diikuti real estate
dan asrama tentara.
2.2 Gambaran
Penyakit DBD secara Bionomic Vektor
Pengertian
vektor DBD adalah
nyamuk yang dapat
menularkan, memindahkan dan atau
menjadi sumber penular
DBD. Virus dengue ditularkan dari
orang ke orang melalui
gigitan nyamuk Aedes
aegypti merupakan vektor epidemi yang paling utama, namun spesies lain
seperti Aedes albopictus, Aedes
polynesiensis dan Aedes
niveus juga dianggap sebagai vektor
sekunder. Kecuali Aedes aegypti
semuanya mempunyai daerah
distribusi geografis sendiri-sendiri yang
terbatas. Meskipun mereka
merupakan host yang
sangat baik untuk virus dengue, biasanya mereka merupakan vektor
epidemi yang kurang efisien dibanding Aedes aegypti (Ditjen PP dan PL, 2011)
Bila penderita DBD digigit nyamuk penular maka virus
akan ikut terisap masuk ke dalam lambung
nyamuk, selanjutnya akan memperbanyak diri dan
tersebar di berbagai
jaringan tubuh nyamuk,
termasuk kelenjar ludahnya. Nyamuk
Aedes aegypti yang
telah menghisap virus
dengue akan menjadi penular
atau infektif selama
hidupnya. Nyamuk dengan umur panjang berpeluang menjadi vektor
lebih besar, karena lebih sering kontak
dengan manusia. Penyakit DBD
semakin menyebar luas sejalan dengan meningkatnya arus transportasi dan kepadatan penduduk, semua
desa/kelurahan
mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD.
Sampai
saat ini penyebaran
DBD masih terpusat
di daerah tropis disebabkan oleh
rata-rata suhu optimum
pertumbuhan nyamuk adalah
25-270C. Namun,
dengan adanya pemanasan
global, DBD diperkirakan akan
meluas sampai ke
daerah-daerah beriklim dingin
(Sembel, 2009).
Nyamuk
ini dikenal sebagai
Tiger mosquito atau
Black White Mosquito karena
tubuhnya mempunyai ciri khas
berupa adanya garis– garis dan bercak
bercak putih keperakan di atas dasar
warna hitam. Dua
garis melengkung berwarna putih
keperakan dikedua sisi
lateral serta dua
buah garis putih sejajar
di garis median
dari punggungnya yang berwarna
dasar hitam.(James MT and Harwood RF, 1969)
Nyamuk dewasa
Aedes albopictus mudah dibedakan dengan Aedes
aegypti karena garis thorax hanya
berupa dua garis lurus di tengah thorax.
(Soedarto, 2008)
Mulut nyamuk termasuk tipe menusuk dan mengisap (
rasping – sucking)
,mempunyai enam stilet
yaitu gabungan antara mandibula,
maxilla yang bergerak naik
turun menusuk jaringan
sampai menemukan pembuluh darah
kapiler dan mengeluarkan ludah
yang berfungsi sebagai cairan
racun dan antikoagulan.
(Sembel DT, 2009)
Pada
keadaan istirahat nyamuk
dewasa hinggap dalam keadaan
sejajar dengan permukaan. Nyamuk
Aedes betina mempunyai abdomen
yang berujung lancip dan
mempunyai cerci yang panjang.
Hanya
nyamuk betina yang
mengisap darah dan kebiasaan mengisap darah pada Aedes aegypti umumnya
pada waktu siang hari sampai sore
hari. Lazimnya yang betina
tidak dapat membuat
telur yang dibuahi tanpa
makan darah yang diperlukan untuk
membentuk hormone
gonadotropik yang diperlukan
untuk ovulasi. Hormon ini
berasal dari corpora allata yaitu
pituitary pada otak
insecta, dapat dirangsang oleh
serotonin dan adrenalin dari
darah korbannya. Kegiatan
menggigit berbeda menurut
umur, waktu dan lingkungan. Demikian pula
irama serangan sehari-hari dapat
berubah menurut musim dan
suhu. Kopulasi didahului oleh
pengeriapan nyamuk jantan yang
terbang bergerombol mengerumuni nyamuk betina.
Aedes memilih tanah teduh yang secara periodik di genangi
air. Jumlah telur yang diletakkan
satu kali maksimum berjumlah
seratus sampai empat ratus
butir.(Neva FA and
Brown HW, 1994)
Telur Aedes sp. tidak mempunyai pelampung dan
diletakkan satu persatu diatas permukaan
air. Ukuran panjangnya 0,7 mm,
dibungkus dalam kulit
yang berlapis tiga dan
mempunyai saluran berupa corong
untuk masuknya spermatozoa. Telur Aedes
aegypti dalam keadaan kering dapat
tahan bertahun –tahun lamanya. Telur berbentuk
elips dan mempunyai permukaan
yang polygonal. Telurnya tidak
akan menetas sebelum tanah
digenangi air dan
telur akan menetas dalam waktu
satu sampai tiga hari pada suhu 30°C tetapi membutuhkan tujuh hari pada
suhu 16°C. ( Neva FA and
Brown HW, 1994 )
Larva memiliki kepala yang cukup besar serta
thorax dan abdomen
yang cukup jelas. Larva
menggantungkan dirinya pada permukaan
air untuk mendapatkan oksigen
dari udara. Larva menyaring mikroorganisme dan
partikel- partikel lainnya dalam
air. Larva biasanya melakukan
pergantian kulit sebanyak empat kali
dan berubah menjadi
pupa sesudah tujuh hari.
(Harwood RF and James MT, 1979)
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fitriyanti
Lakoro dan teman teman dalam jurnalnya yang berjudul pengaruh suhu terhadap
jumlah larva Aedes aegypti yang terperangkap pada ovitrap warna merah di
Kelurahan Huangobotu Kecamatan Dungingi Kota Gorontalo menunjukkan bahwa
Berdasarkan perolehan dari dalam rumah
maka dapat disimpulkan
bahwa perolehan larva yang
banyak terperangkap pada Ovitrap warna merah berada di suhu 29 0C dan paling sedikit pada suhu 32 0C.
Berdasarkan
perolehan dari luar rumah
maka dapat disimpulkan
bahwa perolehan larva yang
banyak terperangkap pada Ovitrap warna merah berada di suhu 30 0C dan paling sedikit pada suhu 32 0 C.
Jika disimpulkan dari
hasil perolehan larva di
dalam dan di
luar rumah maka perolehan terbanyak berada pada Ovitrap yang
diletakkan di dalam rumah
dengan jumlah 264
larva dan paling sedikit berada
pada Ovitrap yang berada di luar rumah dengan jumlah 132 larva.
Berdasarkan teori, nyamuk Aedes
aegypti lebih senang
beristirahat di dalam rumah
daripada di luar
rumah sebab di dalam rumah mereka terlindung dari sinar
matahari langsung, bersembunyi di
tempat-tempat yang gelap dan
lembab sedangkan jika di luar lebih
banyak terdapat nyamuk
anoples, tetapi di Kelurahan
Huangobotu teridentifikasi
endemis DBD jadi nyamuk
Aedes di luar
tetap ditemukan terutama didukung
oleh cuaca yang sekarang
ini musim hujan
yang akan menambah tingkat
oposisi nyamuk.
Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Laksmono
Widagdo dalam jurnalnya yang berjudul kepadatan jentik aedes aegypti sebagai
indikator keberhasilan pemberantasan sarang nyamuk (3m plus): di Kelurahan Srondol wetan, Semarang tahun
2008 mendapatkan hasil sebagai berikut : Variabel yang berhubungan secara
signifikan dengan PSN 3M Plus adalah karakteristik sosial responden yaitu
pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, dan sikap responden. Ada hubungan bermakna
PSN 3M Plus di bak mandi, ember dan
gentong plastik dengan jumlah jentik di tempat penampungan air tersebut.
Dihasilkan persamaan prediksi kepadatan jentik: Y = 25 -19.950X, dengan Y =
Kepadatan jentik dan X = Praktek mengubur ember.
Kemudian banyak juga penelitian tentang cara untuk
membunuh larva nyamuk ini. Salah satunya yaitu Efektivitas Larvasida Ekstrak
Daun Sirsak Dalam Membunuh Jentik Nyamuk oleh Haqkiki Harfriani tahun 2012
dengan hasil sebagai berikut : larvasida ekstrak daun sirsak efektiv dalam
membunuh jentik nyamuk pada tempat penampungan air di Kelurahan Gajahmungkur
Kota Semarang. Hal ini didapati perbedaan jumlah jentik nyamuk selama 6 jam
dengan pemberian larvasida ekstrak daun sirsak. Jumlah jentik sesudah diberi
larvasida daun sirsak berbeda (p=0,0001), sehingga larvasida ekstrak daun
sirsak efektif dapat menekan jumlah jentik nyamuk
Pupa
berbentuk agak pendek, tidak
makan tetapi tetap
aktif bergerak dalam air
terutama bila terganggu.
Pupa akan berenang naik turun dari bagian dasar ke permukaan
air. Dalam waktu dua atau tiga
hari perkembangan pupa
sudah sempurna, maka kulit
pupa pecah dan nyamuk
dewasa muda segera
keluar dan terbang. ( Sembel DT,
2009)
Tempat perindukan utama Aedes aegypti adalah tempat-tempat berisi air bersih yang
berdekatan letaknya dengan rumah penduduk, biasanya tidak melebihi jarak 500
meter dari rumah. Tempat perindukan tersebut berupa tempat perindukan
buatan manusia, seperti
tempayan atau gentong tempat penyimpanan
air minum, bak mandi, pot
bunga, kaleng, botol, drum, dan lain sebaginya (Sungkar,
2008).
Tempat
perindukan utama tersebut dapat
dikelompokkan menjadi Tempat Penampungan
Air (TPA) untuk
keperluan sehari-hari seperti drum, tempayan, bak mandi, bak WC,
ember, dan sejenisnya, TPA bukan untuk
keperluan sehari-hari seperti
tempat minuman hewan, ban
bekas, kaleng bekas, vas
bunga, perangkap semut,
dan sebagainya, dan
TPA alamiah yang terdiri
dari lubang pohon,
lubang batu, pelepah
daun, tempurung kelapa, kulit
kerang, pangkal pohon
pisang, dan lain-lain (Soegijanto, 2006).
Namun dari jurnal penelitian lain yang berjudul
Perilaku Bertelur Nyamuk Aedes aegypti pada Media Air Tercemar oleh Tri
Wurisastuti tahun 2012, mendapatkan hasil bahwa Jumlah telur minimum pada kelompok air
tidak tercemar (air
kran) sebanyak 21 butir
dan maksimum sebanyak 106 butir.
Pada media air cucian beras, air dengan
kotoran ayam dan
air sabun tidak ditemukan telur nyamuk Aedes aegypti (0
butir), namun pada
kelompok air tercemar lainnya
(air dengan tanah, air
dengan kotoran sapi
dan air dengan kotoran kuda)
ditemukan cukup banyak telur Aedes aegypti. Air dengan
campuran kotoran sapi merupakan media yang paling banyak ditemukan
jumlah telur Aedes aegypti. Rata-rata
telur yang ada
pada media air dengan
kotoran sapi sebanyak 290.5 butir telur dalam empat kali
ulangan.
Uji lanjut
dilakukan untuk mengetahui media mana yang disukai dan tidak disukai nyamuk Aedes aegypti untuk bertelur. Uji lanjut yang
dilakukan adalah uji
lanjut Duncan. Hasil uji
lanjut Duncan menyatakan bahwa
air dengan campuran kotoran sapi
paling berpengaruh atau paling disukai oleh nyamuk Aedes aegypti untuk meletakkan telurnya.
Campuran air dengan kotoran
sapi ini memiliki perbedaan statistik yang bermakna
dengan jenis media lainnya.
Media air yang disukai
oleh nyamuk Aedes aegypti
untuk meletakkan telurnya setelah
campuran air dengan kotoran sapi adalah media air kran.
Hal ini
dianggap wajar, karena
secara teoritis nyamuk Aedes
aegypti memang suka bertelur
di air yang
bersih. Namun dari hasil
uji lanjut Duncan
diketahui bahwa pengaruh media
air kran tidak memiliki perbedaan yang bermakna secara
statistik dengan media
air dengan tanah dan
media air dengan
kotoran kuda. Dengan demikian
nyamuk Aedes aegypti
juga suka bertelur
di media air
dengan tanah dan media air dengan kotoran kuda. Media yang
tidak disukai nyamuk
Aedes aegypti untuk bertelur
adalah media air cucian
beras, media air
dengan kotoran ayam dan
media air sabun.
Lalu dari jurnal penelitian lain juga menerangkan
tentang kemampuan adaptasi nyamuk aedes aegypti dan aedes dalam berkembang biak
berdasarkan jenis air dengan hasil sebagai berikut : Kemampuan adaptasi
berkembang biak jenis
Aedes aegypti sp.
pada air hujan
larva sebesar 13.12% dan pupa sebesar 16.66%, pada air sumur gali larva sebesar 16.54% dan pupa sebesar 33.32%,
pada air selokan
larva sebesar 35.35%
dan pupa sebesar
23.66% dan kemampuan
adaptasi berkembang biak
jenis Aedes albopictus sp. pada
air hujan larva
sebesar 13.88% dan pupa
sebesar 31.03%, pada
air sumur gali
larva sebesar 9.33%
dan pupa sebesar 16.16% dan pada air selokan larva
sebesar 43.28% dan pupa sebesar 21.44%.
Nyamuk betina membutuhkan protein untuk memproduksi
telurnya. Oleh karena itu, setelah
kawin nyamuk betina
memerlukan darah untuk pemenuhan kebutuhan
proteinnya. Nyamuk betina
menghisap darah manusia setiap
2-3 hari sekali.
Nyamuk betina menghisap
darah pada pagi dan sore hari dan biasanya pada jam 09.00-10.00 dan 16.00-17.00 WIB. Untuk
mendapatkan darah yang
cukup, nyamuk betina
sering menggigit lebih dari satu orang. Posisi menghisap darah nyamuk
Aedes aegypti sejajar dengan permukaan
kulit manusia. Jarak terbang nyamuk Aedes aegypti sekitar 100
meter (Depkes RI, 2004).
Pergerakan
nyamuk dari tempat
perindukan ke tempat mencari mangsa dan selanjutnya ke
tempat untuk beristirahat ditentukan oleh kemampuan terbang nyamuk. Pada waktu
terbang nyamuk memerlukan oksigen lebih banyak,
dengan demikian penguapan
air dari tubuh
nyamuk menjadi lebih besar. Untuk mempertahankan cadangan
air di dalam
tubuh dari penguapan maka jarak
terbang nyamuk menjadi terbatas. Aktifitas dan jarak
terbang nyamuk dipengaruhi
oleh 2 faktor
yaitu faktor eksternal dan faktor internal.
Meskipun Aedes
aegypti kuat terbang
tetapi tidak pergi
jauh-jauh, karena tiga macam
kebutuhannya yaitu tempat
perindukan, tempat mendapatkan darah,
dan tempat istirahat ada dalam satu rumah. Keadaan tersebut yang menyebabkan
Aedes aegypti bersifat lebih menyukai aktif
di dalam
rumah, endofilik. Apabila
ditemukan nyamuk dewasa
pada jarak terbang mencapai
2 km dari
tempat perindukannya, hal
tersebut disebabkan oleh pengaruh angin atau terbawa alat transportasi.
Setelah selesai menghisap darah, nyamuk betina akan
beristirahat sekitar 2-3 hari untuk
mematangkan telurnya. Nyamuk
Aedes aegypti hidup domestik, artinya lebih menyukai
tinggal di dalam rumah daripada di luar rumah.
Tempat beristirahat yang
disenangi nyamuk ini
adalah tempat-tempat yang lembab dan kurang terang seperti kamar mandi, dapur, dan
WC. Di
dalam rumah nyamuk
ini beristirahat di
baju-baju yang digantung, kelambu,
dan tirai. Sedangkan
di luar rumah
nyamuk ini beristirahat pada tanaman-tanaman yang ada
di luar
rumah (Depkes RI, 2004).
Nyamuk Aedes aegypti
tersebar luas di daerah tropis dan
sub tropis. Di Indonesia, nyamuk
ini tersebar luas
baik di rumah-rumah
maupun tempat-tempat umum. Nyamuk
ini dapat hidup
dan berkembang biak sampai
ketinggian daerah ±1.000
m dari permukaan
air laut. Di
atas ketinggian 1.000 m
nyamuk ini tidak
dapat berkembang biak,
karena pada ketinggian tersebut
suhu udara terlalu
rendah, sehingga tidak memunginkan bagi kehidupan nyamuk
tersebut (Depkes RI, 2005).
Pada saat
musim hujan tiba,
tempat perkembangbiakan nyamuk
Aedes aegypti yang pada musim kemarau
tidak terisi air, akan mulai terisi air. Telur-telur yang tadinya belum
sempat menetas akan menetas. Selain itu, pada
musim hujan semakin
banyak tempat penampungan
air alamiah yang terisi
air hujan dan
dapat digunakan sebagai
tempat berkembangbiaknya
nyamuk ini. Oleh
karena itu, pada
musim hujan populasi nyamuk Aedes
aegypti akan meningkat. Bertambahnya populasi nyamuk ini merupakan salah satu
faktor yang menyebabkan peningkatan penularan penyakit dengue (Depkes RI,
2005).
BAB
III
PENUTUP
3.1
SIMPULAN
3.2
SARAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar