Rabu, 19 Oktober 2016

DBD Bionomi vektor


Demam Berdarah Dengue

Disusun untuk memenuhi tugas Pengendalian Vektor
Dosen Pengampu : Eram Tunggul Pawenang




Oleh:

Wulan Khoirul Rohmah          (6411414048)

Peminatan Epidemiologi dan Biostatiska Kesehatan




JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Epidemiologi berasal dari bahasa yunani kuno, yaitu epi yang berarti diantara, dan demos yang berarti masyarakat, dan logos yang berarti kajian. Jadi epidemiologi dapat kita artikan sebagai kajian tentang apa yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat (Ferasyi,2012).
Epidemiologi merupakan ilmu pengetahuan terapan yang mempelajari tentang timbulnya penyakit atau masalah kesehatan yang menimpa masyarakat. Pengetahuan ini memberi kerangka acuan untuk perencanaan dan evaluasi program intervensi masyarakat, mendeteksi segera dan pengobatan penyakit, serta meminimalkan kecacatan.
Epidemiologi mempunyai tiga fungsi utama, yaitu menerangkan tentang besarnya masalah dan gangguan kesehatan (termasuk penyakit) serta penyebarannya dalam suatu penduduk tertentu, menyiapkan data atau informasi yang esensial untuk keperluan perencanaan, pelaksanaan program, serta evaluasi berbagai kegiatan pelayanan (kesehatan) pada masyarakat, baik yang bersifat pencegahan dan penanggulangan penyakit tersebut dan mengidentifikasi berbagai faktor yang menjadi penyebab masalah atau faktor yang berhubungan dengan terjadinya masalah tersebut (Noor,2012).
Untuk melaksanakan fungsi tersebut, para ahli epidemiologi lebih memusatkan perhatian pada berbagai sifat karakteristik individu dalam suatu populasi tertentu seperti sifat karakteristik biologis, sosio-ekonomi, demografis, kebiasaan individu serta sifat karakteristik genetik penerapannya (Noor,1996).
Penyakit demam berdarah dengue atau disingkat DBD merupakan  salah  satu masalah kesehatan dunia. Hal  ini dapat dilihat dari  jumlah kasus DBD di dunia pada  tahun 2010 mencapai 2.204.516 kasus dan  jumlah  ini meningkat mendekati dua kali lipat dari tahun 2009 yang sebesar 1.451.083 kasus. Jumlah tersebut juga meningkat sebesar 50 kali lipat dalam 5 dekade terakhir. Menurut data dari WHO mengenai  jumlah kasus DBD  selama  tahun 2004-2010 didapatkan negara Brazil merupakan  negara  dengan  jumlah  kasus  DBD  terbesar  yaitu  447.446  kasus. Negara  dengan  jumlah  kasus  terbesar  kedua  dan  ketiga  adalah  Indonesia  dan Vietnam sebesar 129.435 kasus dan 91.321 kasus. (WHO, 2012a).
World  Health  Organization  (2013)  memperkirakan  2,5  milyar  masyarakat dunia  memiliki  risiko  terkena  virus  dengue  dan  lebih  dari  50-100  juta  infeksi dengue  diseluruh  dunia  setiap  tahunnya.  Infeksi  dengue  yang  berat  juga diperkirakan  menyerang  kurang  lebih  500.000  penduduk  dunia  dan  2,5% diantaranya meninggal dunia (WHO, 2013). Jumlah kasus DBD di kawasan Asia Tenggara  meningkat  dari  tahun  2011  sebesar  100.278  kasus  menjadi  257.024 kasus di tahun 2012 (WHO, 2012b).      
Penyakit DBD  juga masih merupakan masalah kesehatan besar di  Indonesia. Sejak pertama kali ditemukan di Surabaya pada tahun 1968 hingga saat ini jumlah kasus  DBD  terus  meningkat  (Kemenkes  RI,  2010).  Hal  ini  dapat  dilihat  dari jumlah  kasus DBD  sebesar  90.245  kasus  dengan  angka  insidensi  penyakit  pada tahun  2012  yang  mencapai  37,11  per  100.000  penduduk  dengan  jumlah  kasus meninggal  sebesar  816  kasus  (Case  Fatality  Rate  (CFR)  =  0,90%).  Terjadi peningkatan  jumlah  kasus  DBD  pada  tahun  2012  dibandingkan  dengan  tahun 2011  sebesar 65.725 kasus dengan  angka  insidensi 27,67 per 100.000 penduduk dan jumlah kematian 595 kasus (CFR = 0,91%) (Kemenkes RI, 2013).
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan  uraian  latar  belakang masalah  di  atas, maka  dapat  dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 
1.      Bagaimana gambaran penyakit DBD secara epidemiologi ?
2.      Bagaimana gambaran penyakit DBD secara bionomic vector ?
1.3  Tujuan Penulisan
Berdasarkan  uraian  rumusan masalah  di  atas, maka  tujuan penulisan sebagai berikut
1.      Untuk mengetahui gambaran penyakit DBD secara epidemiologi
2.      Untuk mengetahui gambaran penyakit DBD secara bionomic vektor
1.4  Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan bagi penulis yaitu menambah pengetahuan tentang gambaranpenyakit DBD secara epidemiologi dan juga gambaran penyakit DBD secara bionomic vector.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Gambaran Penyakit DBD secara Epidemiologi
2.1.1        Pengertian DBD
Demam  berdarah  dengue  (DBD)  adalah  penyakit  infeksi  yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam 2- 7 hari, nyeri  otot  dan  atau  nyeri  sendi  yang  disertai  leukopenia,  ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diatesis hemoragik (Suhendro, 2009). 
Tidak semua yang terinfeksi virus dengue akan menunjukkan manifestasi DBD  berat.  Ada  yang  hanya  bermanifestasi  demam  ringan  yang  akan sembuh dengan sendirinya atau bahkan ada yang sama sekali tanpa gejala sakit  (asimtomatik).  Sebagian  lagi  akan menderita  demam  dengue  saja yang tidak menimbulkan kebocoran plasma dan mengakibatkan kematian (Kemenkes RI, 2013).
2.1.2        Faktor risiko Demam Berdarah Dengue ( DBD )
Morbiditas  dan    mortalitas  penyakit  DBD  menurut  segitiga  epidemiologi dipengaruh oleh 3 faktor, yaitu:
2.1.2.1 Agent
Agent  merupakan  penyebab  penyakit,  dalam  penyakit  demam  berdarah dengue  (  DBD  )  adalah  virus.  Sedangkan  nyamuk  Aedes  merupakan  vektor
penyakit  DBD.  Virus  Aedes  mampu  bermultiplikasi  pada  kelenjar  ludah  dari
nyamuk  Aedes  Aegepty.  Pengontrolan  terhadap  virus  dengue  dapat  dilakukan dengan  melakukan  kontrol  pada  vektornya  yaitu  nyamuk  Aedes.  Jumlah kepadatan  vektor  Aedes  dalam  suatu  daerah  dapat  menjadi  patokan  potensial penyebaran DBD.
2.1.2.2 Host
Host atau Pejamu adalah manusia atau makhluk hidup lainnya yang menjadi tempat terjadinya proses alamiah perkembangan penyakit. Yang termasuk dalam faktor penjamu yaitu usia,  jenis kelamin, ras, anatomi  tubuh, status gizi, sosial  ekonomi,  status  perkawinan,  penyakit  terdahulu,  gaya  hidup, hereditas,  nutrisi dan  imunitas.  Faktor-faktor  ini  mempengaruhi  risiko untuk  terpapar  sumber  infeksi  serta  kerentanan  dan  resistensi manusia terhadap  suatu  penyakit  atau  infeksi.  Pejamu  memiliki  karakteristik tersendiri dalam menghadapi ancaman penyakit, antara lain:
1.      Imunitas
Kesanggupan  pejamu  untuk  mengembangkan  suatu  respon imunologis, dapat secara alamiah maupun non alamiah, sehingga tubuh  kebal  terhadap  suatu  penyakit  tertentu.  Selain mempertahankan  diri,  pada  jenis-jenis  penyakit  tertentu mekanisme  pertahanan  tubuh  dapat  menciptakan  kekebalan tersendiri.
2.      Resistensi
Kemampuan dari pejamu untuk bertahan  terhadap suatu  infeksi. Terhadap  suatu  infeksi  kuman  tertentu,  manusia  mempunyai mekanisme pertahanan tersendiri dalam menghadapinya.
3.      Infectiousness
Potensi  pejamu  yang  terinfeksi  untuk  menularkan  penyakit kepada  orang  lain.  Pada  keadaan  sakit  maupun  sehat,  kuman yang  berbeda  dalam  tubuh manusia  dapat  berpindah  kepada manusia dan sekitarnya.
2.1.2.3 Lingkungan
Dengue  di  Indonesia  memiliki  siklus  epidemik  setiap  sembilan  hingga sepuluh  tahunan.  Hal  ini  terjadi  karena  perubahan  iklim  yang  berpengaruh terhadap  kehidupan  vektor,  diluar  faktor-faktor  lain  yang  mempengaruhinya.
Menurut  Mc  Michael,  perubahan  iklim  menyebabkan  perubahan  curah  hujan,
kelembaban  suhu,  arah  udara  sehingga  berefek  terhadap  ekosistem  daratan  dan lautan  serta  berpengaruh  terhadap  kesehatan  terutama  terhadap  perkembangan vektor  penyakit  seperti  nyamuk.
Penyakit DBD dapat menyebar pada semua tempat kecuali tempat-tempat dengan ketinggian 1000 meter dari permukaan  laut karena pada tempat yang tinggi dengan suhu yang rendah  perkembangbiakan Aedes aegypti tidak sempurna.
Meningkatnya kasus serta bertambahnya wilayah yang terjangkit disebabkan
karena semakin baiknya sarana transportasi penduduk, adanya pemukiman baru, dan terdapatnya vektor nyamuk hampir di seluruh pelosok tanah air serta adanya empat tipe virus yang menyebar sepanjang tahun.
Kecamatan Magelang Utara termasuk daerah endemis tinggi DBD, secara topografi  dan  geografi  termasuk  dataran  tinggi  yang  berada  pada      ketinggian  ±  380  m  di  atas  permukaan  laut,  dengan  kemiringan  berkisar      antara  5o -  45o
Luas  wilayahnya  ±  6,128  km2  dengan  kontur  permukaan tanah bervariasi mulai dari kondisi   datar, bergelombang,  dan daerah kemiringan.  Kecamatan  Magelang  Utara  mempunyai  jumlah      penduduk    35.795  jiwa,  dengan  kepadatan  penduduk  ±  5.841  jiwa  /  km2 (Kecamatan  Magelang  Utara,  2013).  Jumlah  kasus  DBD  pada  tahun  2013 sebanyak  41  kasus,  dengan  Insidence  Rate  (IR)  DBD  =  114,54 per 100.000 penduduk (Dinkes Kota Magelang, 2013). 
Pola berjangkitnya infeksi virus  dengue dipengaruhi oleh iklim dan kelembaban udara. Pada suhu yang panas (28-320C) dengan kelembaban yang tinggi, nyamuk  Aedes aegypti  akan  tetap  bertahan  hidup  untuk  jangka  waktu  lama.
Di Indonesia karena suhu udara dan kelembaban tidak sama di setiap tempat maka pola terjadinya penyakit agak berbeda untuk setiap tempat. Di pulau Jawa pada umumnya infeksi virus dengue terjadi mulai awal Januari, meningkat terus sehingga kasus terbanyak terdapat pada sekitar bulan April-Mei setiap tahun.
Suhu  udara  rata-rata  di Kecamatan Magelang Utara yaitu 20oC  -  32oC,  dengan  kelembaban nisbi  antara  58,5%  -  90,8%. 
Rata-rata  curah  hujan  bulanan  di  kawasan      berkisar  ±  234  mm  dan  termasuk  ke  dalam  bulan  basah  sepanjang  tahun      (BPS  Kota  Magelang,  2013). 
Tempat penampungan air / keberadaan kontainer, sebagai  tempat perindukan nyamuk  Aedes aegypti.
Data dari data jumlah kasus DBD, IR DBD, dan Angka Bebas Jentik (ABJ) selama tiga  tahun terakhir di Kecamatan Magelang Utara, berdasarkan wilayah kelurahan sebagaimana tabel berikut :
Berdasarkan  Tabel  1,  pencapaian  ABJ  pada  tiap-tiap  kelurahan  belum mencapai  target  nasional  yaitu  ABJ  ≥  95%  (Depkes  RI,  2000;  Widiastuti,       et  al.,  2010),    kecuali Kelurahan Kramat Utara. Kasus DBD  dan  IR DBD  pada tahun 2013  tidak berbanding  lurus dengan pencapaian ABJ per kelurahan,  tetapi 
secara  garis  besar  cenderung  terjadi  peningkatan  jumlah  kasus  semenjak       tahun 2011 hingga tahun 2013.  
Kebersihan lingkungan / sanitasi lingkungan, dari penelitian  Yukresna (2003) di kota Medan dengan desain penelitian  case control  yang mendapatkan bahwa kebersihan lingkungan mempunyai hubungan dengan kejadian DBD dengan OR 2,90 (CI 95% 1,63-5,15). Penelitian tersebut sesuai dengan pernyataan Seogeng, S (2004) yang menyatakan bahwa kondisi sanitasi lingkungan berperan besar dalam perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Data kasus DBD berdasarkan jenis permukiman / tempat tinggal pasien di Kecamatan Magelang Utara,  selama  tiga  tahun  berturut-turut  sebagaimana  tabel berikut :
Berdasarkan Tabel 2, terdapat perbedaan jumlah kasus DBD menurut jenis permukiman dan cenderung meningkat semenjak tahun 2011 mengikuti siklus tiga tahunan.  Jumlah  kasus  DBD  terbanyak  terjadi  di  perkampungan  tradisional, diikuti  real  estate  dan  asrama  tentara.
2.2  Gambaran Penyakit DBD secara Bionomic Vektor
Pengertian  vektor  DBD  adalah  nyamuk  yang  dapat  menularkan, memindahkan  dan  atau  menjadi  sumber  penular  DBD.  Virus  dengue ditularkan  dari  orang  ke  orang melalui  gigitan  nyamuk  Aedes    aegypti merupakan vektor epidemi yang paling utama, namun spesies lain seperti Aedes  albopictus,  Aedes  polynesiensis dan Aedes  niveus  juga  dianggap sebagai  vektor  sekunder. Kecuali  Aedes  aegypti  semuanya mempunyai daerah  distribusi  geografis  sendiri-sendiri  yang  terbatas.  Meskipun mereka merupakan  host  yang  sangat baik untuk  virus  dengue, biasanya mereka merupakan vektor epidemi yang kurang efisien dibanding Aedes aegypti (Ditjen PP dan PL, 2011)
Bila penderita DBD digigit nyamuk penular maka virus akan ikut terisap masuk ke dalam  lambung nyamuk, selanjutnya akan memperbanyak diri dan  tersebar  di  berbagai  jaringan  tubuh  nyamuk,  termasuk  kelenjar ludahnya.  Nyamuk  Aedes  aegypti  yang  telah  menghisap  virus  dengue akan  menjadi  penular  atau  infektif  selama  hidupnya.  Nyamuk  dengan umur panjang berpeluang menjadi vektor lebih besar, karena lebih sering kontak  dengan manusia. Penyakit DBD  semakin menyebar  luas  sejalan dengan meningkatnya arus  transportasi dan kepadatan penduduk, semua
desa/kelurahan mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD.
Sampai  saat  ini  penyebaran  DBD  masih  terpusat  di  daerah  tropis disebabkan  oleh  rata-rata  suhu  optimum  pertumbuhan  nyamuk  adalah  25-270C. Namun,  dengan  adanya  pemanasan  global, DBD  diperkirakan akan meluas  sampai  ke  daerah-daerah  beriklim  dingin  (Sembel,  2009).
Nyamuk  ini  dikenal  sebagai  Tiger  mosquito  atau  Black White  Mosquito  karena  tubuhnya mempunyai  ciri khas berupa  adanya garis– garis dan bercak bercak putih keperakan di  atas  dasar  warna  hitam.  Dua  garis melengkung  berwarna  putih  keperakan  dikedua  sisi  lateral  serta  dua  buah  garis putih  sejajar  di  garis  median  dari punggungnya  yang berwarna dasar hitam.(James MT and Harwood RF, 1969)
Nyamuk  dewasa Aedes  albopictus mudah dibedakan  dengan Aedes  aegypti karena garis  thorax hanya berupa dua garis  lurus di tengah thorax. (Soedarto, 2008)
Mulut nyamuk termasuk tipe menusuk dan mengisap  (  rasping – sucking)  ,mempunyai  enam  stilet  yaitu  gabungan antara  mandibula,  maxilla  yang  bergerak naik  turun  menusuk  jaringan  sampai menemukan  pembuluh  darah  kapiler  dan mengeluarkan  ludah  yang  berfungsi sebagai  cairan  racun  dan  antikoagulan.  (Sembel DT, 2009)
Pada  keadaan  istirahat  nyamuk  dewasa hinggap  dalam  keadaan  sejajar  dengan permukaan.  Nyamuk  Aedes  betina mempunyai  abdomen  yang  berujung lancip dan mempunyai cerci yang panjang.
Hanya  nyamuk  betina  yang  mengisap darah dan kebiasaan mengisap darah pada Aedes aegypti umumnya pada waktu siang hari  sampai  sore  hari.  Lazimnya  yang betina  tidak  dapat  membuat  telur  yang dibuahi  tanpa  makan  darah  yang diperlukan  untuk  membentuk  hormone gonadotropik  yang  diperlukan  untuk ovulasi.  Hormon  ini  berasal  dari  corpora allata  yaitu  pituitary  pada  otak  insecta, dapat  dirangsang  oleh  serotonin  dan adrenalin  dari  darah  korbannya. Kegiatan menggigit  berbeda  menurut  umur,  waktu dan  lingkungan. Demikian  pula  irama serangan  sehari-hari  dapat  berubah menurut  musim  dan  suhu.  Kopulasi didahului oleh pengeriapan nyamuk jantan yang  terbang  bergerombol  mengerumuni nyamuk  betina.  Aedes  memilih  tanah teduh yang secara periodik di genangi air. Jumlah  telur yang  diletakkan  satu  kali maksimum  berjumlah  seratus  sampai empat  ratus  butir.(Neva  FA  and  Brown HW, 1994)
Telur Aedes sp. tidak mempunyai pelampung  dan  diletakkan  satu  persatu diatas  permukaan  air.  Ukuran  panjangnya 0,7  mm,  dibungkus  dalam  kulit  yang berlapis  tiga  dan  mempunyai  saluran berupa  corong  untuk  masuknya spermatozoa.  Telur Aedes  aegypti dalam keadaan  kering  dapat  tahan  bertahun –tahun  lamanya. Telur  berbentuk  elips  dan mempunyai  permukaan  yang  polygonal. Telurnya  tidak  akan  menetas  sebelum tanah  digenangi  air  dan    telur  akan menetas dalam waktu satu sampai tiga hari pada suhu 30°C tetapi membutuhkan tujuh hari  pada  suhu  16°C.  (  Neva  FA  and Brown HW, 1994 )
Larva memiliki kepala yang cukup besar    serta  thorax  dan  abdomen  yang cukup  jelas.  Larva  menggantungkan dirinya  pada  permukaan  air  untuk mendapatkan  oksigen  dari  udara.  Larva menyaring  mikroorganisme  dan  partikel- partikel  lainnya dalam air. Larva biasanya melakukan  pergantian  kulit  sebanyak empat  kali  dan  berubah  menjadi  pupa sesudah  tujuh  hari.  (Harwood  RF  and James MT, 1979)
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fitriyanti Lakoro dan teman teman dalam jurnalnya yang berjudul pengaruh suhu terhadap jumlah larva  Aedes aegypti yang terperangkap pada ovitrap warna merah di Kelurahan Huangobotu Kecamatan Dungingi Kota Gorontalo menunjukkan bahwa Berdasarkan perolehan dari dalam rumah  maka  dapat  disimpulkan  bahwa perolehan  larva  yang  banyak terperangkap pada Ovitrap warna merah berada di  suhu 29 0C dan paling  sedikit pada suhu 32 0C.
Berdasarkan  perolehan  dari  luar rumah  maka  dapat  disimpulkan  bahwa perolehan  larva  yang  banyak terperangkap pada Ovitrap warna merah berada di  suhu 30 0C dan paling  sedikit pada suhu 32 0 C. Jika  disimpulkan  dari  hasil perolehan  larva  di  dalam  dan  di  luar rumah maka perolehan terbanyak berada pada Ovitrap  yang  diletakkan  di  dalam rumah  dengan  jumlah  264  larva  dan paling sedikit berada pada Ovitrap yang berada di luar rumah dengan jumlah 132 larva. Berdasarkan  teori, nyamuk Aedes aegypti  lebih  senang  beristirahat  di dalam  rumah  daripada  di  luar  rumah sebab di dalam rumah mereka terlindung dari  sinar  matahari  langsung, bersembunyi  di  tempat-tempat  yang gelap dan lembab sedangkan jika di luar lebih  banyak  terdapat  nyamuk  anoples, tetapi  di  Kelurahan  Huangobotu teridentifikasi  endemis  DBD  jadi nyamuk  Aedes  di  luar  tetap  ditemukan terutama  didukung  oleh  cuaca  yang sekarang  ini  musim  hujan  yang  akan menambah tingkat oposisi nyamuk.
Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Laksmono Widagdo dalam jurnalnya yang berjudul kepadatan jentik aedes aegypti sebagai indikator keberhasilan pemberantasan sarang nyamuk (3m plus):  di Kelurahan Srondol wetan, Semarang tahun 2008 mendapatkan hasil sebagai berikut : Variabel yang berhubungan secara signifikan dengan PSN 3M Plus adalah karakteristik sosial responden yaitu pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, dan sikap responden. Ada hubungan bermakna PSN 3M Plus di bak mandi, ember dan  gentong plastik dengan jumlah jentik di tempat penampungan air tersebut. Dihasilkan persamaan prediksi kepadatan jentik: Y = 25 -19.950X, dengan Y = Kepadatan jentik dan X = Praktek mengubur ember. 
Kemudian banyak juga penelitian tentang cara untuk membunuh larva nyamuk ini. Salah satunya yaitu Efektivitas Larvasida Ekstrak Daun Sirsak Dalam Membunuh Jentik Nyamuk oleh Haqkiki Harfriani tahun 2012 dengan hasil sebagai berikut : larvasida ekstrak daun sirsak efektiv dalam membunuh jentik nyamuk pada tempat penampungan air di Kelurahan Gajahmungkur Kota Semarang. Hal ini didapati perbedaan jumlah jentik nyamuk selama 6 jam dengan pemberian larvasida ekstrak daun sirsak. Jumlah jentik sesudah diberi larvasida daun sirsak berbeda (p=0,0001), sehingga larvasida ekstrak daun sirsak efektif dapat menekan jumlah jentik nyamuk
Pupa  berbentuk  agak  pendek, tidak  makan  tetapi  tetap  aktif  bergerak dalam  air  terutama  bila  terganggu.  Pupa akan berenang naik turun dari bagian dasar ke  permukaan  air. Dalam waktu  dua  atau tiga  hari  perkembangan  pupa  sudah sempurna,  maka  kulit  pupa  pecah  dan nyamuk  dewasa  muda  segera  keluar  dan terbang. ( Sembel DT, 2009)
Tempat perindukan utama Aedes aegypti adalah  tempat-tempat berisi air bersih yang berdekatan letaknya dengan rumah penduduk, biasanya tidak melebihi jarak 500 meter dari rumah. Tempat perindukan tersebut berupa tempat  perindukan  buatan  manusia,  seperti  tempayan  atau  gentong tempat  penyimpanan  air minum,  bak mandi,  pot  bunga,  kaleng,  botol, drum, dan lain sebaginya (Sungkar, 2008). 
Tempat  perindukan  utama  tersebut  dapat  dikelompokkan  menjadi Tempat  Penampungan  Air  (TPA)  untuk  keperluan  sehari-hari  seperti drum, tempayan, bak mandi, bak WC, ember, dan sejenisnya, TPA bukan untuk  keperluan  sehari-hari  seperti  tempat minuman  hewan,  ban  bekas, kaleng  bekas,  vas  bunga,  perangkap  semut,  dan  sebagainya,  dan  TPA alamiah  yang  terdiri  dari  lubang  pohon,  lubang  batu,  pelepah  daun, tempurung  kelapa,  kulit  kerang,  pangkal  pohon  pisang,  dan  lain-lain (Soegijanto, 2006).
Namun dari jurnal penelitian lain yang berjudul Perilaku Bertelur Nyamuk Aedes aegypti pada Media Air Tercemar oleh Tri Wurisastuti tahun 2012, mendapatkan hasil bahwa Jumlah  telur minimum pada kelompok  air  tidak  tercemar  (air  kran) sebanyak  21  butir  dan  maksimum sebanyak 106 butir. Pada media air cucian beras,  air  dengan  kotoran  ayam  dan  air sabun tidak ditemukan telur nyamuk Aedes aegypti  (0  butir),  namun  pada  kelompok air  tercemar  lainnya  (air dengan  tanah, air dengan  kotoran  sapi  dan  air  dengan kotoran  kuda)  ditemukan  cukup  banyak telur Aedes aegypti. Air dengan campuran kotoran sapi merupakan media yang paling banyak  ditemukan  jumlah  telur  Aedes aegypti.  Rata-rata  telur  yang  ada  pada media  air  dengan  kotoran  sapi  sebanyak 290.5 butir telur dalam empat kali ulangan.
Uji  lanjut dilakukan untuk mengetahui media mana yang disukai dan tidak disukai nyamuk  Aedes aegypti untuk bertelur. Uji lanjut  yang  dilakukan  adalah  uji  lanjut Duncan.  Hasil  uji  lanjut  Duncan menyatakan  bahwa  air  dengan  campuran kotoran  sapi  paling  berpengaruh  atau paling disukai oleh nyamuk Aedes aegypti  untuk meletakkan  telurnya.  Campuran  air dengan  kotoran  sapi  ini  memiliki perbedaan statistik yang bermakna dengan jenis  media  lainnya.  Media  air  yang disukai  oleh  nyamuk Aedes  aegypti  untuk meletakkan  telurnya  setelah  campuran  air  dengan kotoran sapi adalah media air kran. Hal  ini  dianggap  wajar,  karena  secara teoritis  nyamuk  Aedes  aegypti  memang suka  bertelur  di  air  yang  bersih.  Namun dari  hasil  uji  lanjut  Duncan  diketahui bahwa  pengaruh  media  air  kran  tidak memiliki perbedaan yang bermakna secara statistik  dengan  media  air  dengan  tanah dan  media  air  dengan  kotoran  kuda. Dengan  demikian  nyamuk  Aedes  aegypti  juga  suka  bertelur  di  media  air  dengan tanah dan media air dengan kotoran kuda. Media  yang  tidak  disukai  nyamuk  Aedes aegypti  untuk  bertelur  adalah  media  air cucian  beras,  media  air  dengan  kotoran ayam  dan  media  air  sabun.
Lalu dari jurnal penelitian lain juga menerangkan tentang kemampuan adaptasi nyamuk aedes aegypti dan aedes dalam berkembang biak berdasarkan jenis air dengan hasil sebagai berikut : Kemampuan  adaptasi  berkembang  biak  jenis  Aedes  aegypti  sp.  pada  air  hujan  larva sebesar 13.12% dan pupa sebesar 16.66%, pada air sumur gali  larva sebesar 16.54% dan pupa sebesar  33.32%,  pada  air  selokan  larva  sebesar  35.35%  dan  pupa  sebesar  23.66%  dan kemampuan adaptasi  berkembang  biak  jenis Aedes albopictus  sp. pada air  hujan  larva  sebesar 13.88%  dan  pupa  sebesar  31.03%,  pada  air  sumur  gali  larva  sebesar  9.33%  dan  pupa  sebesar 16.16% dan pada air selokan larva sebesar 43.28% dan pupa sebesar 21.44%.
Nyamuk betina membutuhkan protein untuk memproduksi telurnya. Oleh karena  itu,  setelah  kawin  nyamuk  betina  memerlukan  darah  untuk pemenuhan  kebutuhan  proteinnya.  Nyamuk  betina  menghisap  darah manusia  setiap  2-3  hari  sekali.  Nyamuk  betina  menghisap  darah  pada pagi dan  sore hari dan biasanya pada  jam 09.00-10.00 dan 16.00-17.00 WIB.  Untuk  mendapatkan  darah  yang  cukup,  nyamuk  betina  sering menggigit  lebih dari  satu orang. Posisi menghisap darah nyamuk Aedes aegypti  sejajar dengan permukaan kulit manusia.  Jarak  terbang nyamuk Aedes aegypti sekitar 100 meter (Depkes RI, 2004).
Pergerakan  nyamuk  dari  tempat  perindukan  ke  tempat mencari mangsa dan selanjutnya ke tempat untuk beristirahat ditentukan oleh kemampuan terbang nyamuk. Pada waktu terbang nyamuk memerlukan oksigen lebih banyak,  dengan  demikian  penguapan  air  dari  tubuh  nyamuk  menjadi lebih  besar. Untuk mempertahankan  cadangan  air  di  dalam  tubuh  dari penguapan maka  jarak  terbang  nyamuk menjadi  terbatas. Aktifitas  dan jarak  terbang  nyamuk  dipengaruhi  oleh  2  faktor  yaitu  faktor  eksternal dan faktor internal. 
Meskipun Aedes  aegypti  kuat  terbang  tetapi  tidak  pergi  jauh-jauh, karena  tiga macam kebutuhannya yaitu  tempat perindukan,  tempat mendapatkan darah, dan tempat istirahat ada dalam satu rumah. Keadaan tersebut yang menyebabkan Aedes aegypti bersifat  lebih menyukai aktif di  dalam  rumah,  endofilik.  Apabila  ditemukan  nyamuk  dewasa  pada jarak  terbang  mencapai  2  km  dari  tempat  perindukannya,  hal  tersebut disebabkan oleh pengaruh angin atau terbawa alat transportasi.
Setelah selesai menghisap darah, nyamuk betina akan beristirahat sekitar 2-3  hari  untuk  mematangkan  telurnya.  Nyamuk  Aedes  aegypti  hidup domestik, artinya lebih menyukai tinggal di dalam rumah daripada di luar rumah.  Tempat  beristirahat  yang  disenangi  nyamuk  ini  adalah  tempat-tempat yang  lembab dan kurang  terang seperti kamar mandi, dapur, dan WC.  Di  dalam  rumah  nyamuk  ini  beristirahat  di  baju-baju  yang digantung,  kelambu,  dan  tirai.  Sedangkan  di  luar  rumah  nyamuk  ini beristirahat pada  tanaman-tanaman  yang  ada di  luar  rumah  (Depkes RI, 2004).
Nyamuk Aedes aegypti  tersebar  luas di daerah  tropis dan  sub  tropis. Di Indonesia,  nyamuk  ini  tersebar  luas  baik  di  rumah-rumah  maupun tempat-tempat  umum.  Nyamuk  ini  dapat  hidup  dan  berkembang  biak sampai  ketinggian  daerah  ±1.000  m  dari  permukaan  air  laut.  Di  atas ketinggian  1.000  m  nyamuk  ini  tidak  dapat  berkembang  biak,  karena pada  ketinggian  tersebut  suhu  udara  terlalu  rendah,  sehingga  tidak memunginkan bagi kehidupan nyamuk tersebut (Depkes RI, 2005).
Pada  saat musim  hujan  tiba,  tempat  perkembangbiakan  nyamuk  Aedes aegypti yang pada musim kemarau  tidak  terisi air, akan mulai  terisi air. Telur-telur yang tadinya belum sempat menetas akan menetas. Selain itu, pada  musim  hujan  semakin  banyak  tempat  penampungan  air  alamiah yang  terisi  air  hujan  dan  dapat  digunakan  sebagai  tempat berkembangbiaknya  nyamuk  ini.  Oleh  karena  itu,  pada  musim  hujan populasi nyamuk Aedes aegypti akan meningkat. Bertambahnya populasi nyamuk ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan penularan penyakit dengue (Depkes RI, 2005).




















BAB III
PENUTUP
3.1              SIMPULAN


3.2              SARAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar